GERAKAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ESENSIALISME DAN PERENNIALISME

GERAKAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN
ESENSIALISME DAN PERENNIALISME

  1. Esensialisme
  2. Orientasi umum
  3. Batasan

Esesensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan Progresisvisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut Esesensialisme, nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan di dalamnya telah teruji dalam gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.

  1. Karakteristik

Ciri-ciri Filsafat Pendidikan Esesensialisme, yang disarikan oleh William C. Bagley adalah sebagai berikut :

1)   Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam jiwa.

2)  Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia.

3)  Oleh karena kemampuan untuk mendisiplinkan diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.

4)  Esesensialisme menawarkan teori yang kokoh kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah. Apabila terdapat sebuah pertanyaan di masa lampau tentang jenis teori pendidikan yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat demokrasi di dunia, maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi pada hari ini.

  1. Tokoh Bagley (1874-1946)
  2. William C. Bagley lahir di Detroit. Ia memasuki Universitas Negeri Michigan, danUniversitas Wisconsin, dan menerima gelar Doktor dari Universitas Cornell tahun 1900. setelah mengajar di sekolah umum dan sekolah guru di Illinois dan mengajar di Universitas Illinois, dalam tahun 1917 ia mengajar di Sekolah Tinggi Guru (Teachers College) di Universitas Columbia selama lebih dari 20 tahun, dan pensiun dalam tahun 1940.
  3. Dalam perjalanan karirnya, ia menyunting Jurnal Asosiasi Pendidikan Nasional (Journal of the Nationa Education Assiation), dan penerbitan berkala serta menjabat sebagai Presiden Dewan Nasional (NEA’s Naitional Council of Education).
  1. Dasar Filosofis

Esesensialisme merupakan gerakan pendidikan yang bertumpu pada mazhab filsafat idealisme dan realisme. Meskipun kaum Idealisme dan kaum Realis berbeda pandangan filsafatnya, mereka sepaham bahwa:

  1. hakikat yang mereka anut memberi makna pendidikan bahwa anak harus menggunakan kebebasannya, dan ia memerlukan disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya sebelum dia sendiri dapat mendisiplinkan dirinya; dan
  2. Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya mengandung makna pendidikan bahwa generasi muda perlu belajar untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya dan kesejahteraan sosial.
  3. Teori Pendidikan
  4. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur ayng inti (esensial) dari sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan  intelek atau kecerdasan.

  1. Metode Pendidikan

1)      Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).

2)      Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka haru dipaksa belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode tradisional yang tepat.

3)      Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas; dan penguasan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.

  1. Kurikulum

1)      Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.

2)      Kurikulum Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika.

3)      Kurikulum Sekolah Menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap mata-mata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu dasar utama bagi pendidikan umum yang diperlukan untuk dapat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka. Penguasaan fakta dan konsep-konsep pokok dan disiplin-disiplin yang inti adalah wajib.

  1. Pelajar

Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berpikir.

  1. Pengajar

1)      Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.

2)      Gruru berperanan sebagai sebuah contoh dalam pengawalan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan.

  1. Perennialisme
  2. Orientasi Umum
  3. Batasan

Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap gerakan Pendidikan Prigresivisme yang mengingkari supernatural. Perennialisme adalahgerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut.

  1. Karakteristik

Robert M. Hutchins merangkum tugas pendidikan sebagai berikut : Pendidikan mengandung mengajar. Mengajar mengandung pengetahuan. Penegtahuan               adalah kebenaran. Kebenaran, di mana pun adalah saqma. Karena itu pendidikan di mana pun seharusnya sama.

  1. Tojoh Hutchins
  2. Hutchins adalah juru bicara utama bagi filsafat kaum Perennialisme di Amerika dan sebuah semua kritik yang penting tentang praktek pendidikan, khususnya pendidikan di perguruan tinggi, selama paruh pertama abad 20. Ia merasakan kekacauan dalam pendidikan tinggi disebabkan oleh tiga kelompok utama dalam masyarakat, yaitu:

1.)    kecintaan pada uang.

2.)    Suatu konsep yang keliru tentang demokrasi, dan

3.)    Suatu gagasan yang keliru tentang kemajuan.

Ia terutama menentang kecenderungan mengidentifikasi kemajuan dengan akumulasi yang tepat tentang informasi. Dalam pendekatan semacam ini, pengahargaan terhadap fakta secara logis mendorong pada pengajaran tentang fakta–tetapi ia beragumentasi bahwa fakta tidak selamanya berlaku, dan berdasarkan generasi geometris tentang fakta baru yang berkembang cepat, bagaimanakah usul kita menangani hal tersebut? Ia berpendapat bahwa akan jauh lebih berarti apabila mengutamakan belajar di sekolah dengan belajar pemikiran klasik dan intelektual, yang merupakan kekuatan dan hal yang penting dari akal pikiran manusia.

  1. Ketika
    Ketika menjadi Presiden Universitas Chicago (1929-1945), sebuah posisi yang diraihnya pada usia 30 tahun, Hutchins berbuat banyak hal untuk memajukan gerekan pendidikan liberal. Ia menghapuskan kelompok-kelompok persaudaraan, sepak bola, wajib hadir, dan sistem kredit. Ia merasa bahwa belajar untuk belajar itu sendiri dirusak oleh konsep universitas yang hanya mempersipakan mahasiswanya untuk bekerja. Penekanan pada kemajuan ini membuatnya sangat merendahkan pendidikan “Melatih” seorang anak muda hanya untuk melakukan suatu tugas yang rendahan seperti: konsmetologogi, montir mobil, atau perbaikan TV, dan ini atas biaya suatu pendidikan, jumlah seluruhnya, hanya untuk merendahkan sifat manusia. Ia meyakini yang sebaliknya, bahwa universitas harus menyediakan suatu pendidikan liberal dan pelatihan praktis tersebut hendaknya terjadi di lembaga-lembaga teknis. Dalam masa menjadi presiden di Universitas Columbia, ia menulis dan memberikan kuliah. Ia mengunggulkan prestasi intelektual dan menegakkan perlunya melestarikan tradisi pemikiran Barat secara akademis.
  2. Dasar Filosofis

Orientasi pendidikan dari Perennialisme adalah Scholastisisme atau Neo-Thomisme, yang pada dasarnya memandang kenyataan sebagai sebuah dunia akal pikiran dan Tuhan, pengetahuan yang benar diperoleh melalui berpikir dan keimanan, dan kebaikan berdasarkan perbuatan rasional.

  1. Teori Pendidikan
  2. a) Tujuan pendidikan

Membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki. Oleh karena kebenaran-kebenaran tersebut universal dan konstan, maka kebenaran-kebenaran tersebut hendaknya menjadi tujuan-tujuan pendidikan yang murni. Kebenaran-kebenaran hakiki dapat dicapai dengan sebaik-baiknya melalui:

1)      Latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran, dan

2)      Latihan karakter sebagai suatu cara mengembangkan manusia spritual.

  1. b) Metode Pendidikan

Latihan mental dalam bentuk diskusi, analisis buku melalui pembcaan buku-buku tergolonmg karya-karya besar, buku-buku besar tentang peradaban Barat.

  1. c) Kurikulum

Kurikulum berpusat pada mata pelajaran, dan cenderung menitikberatkan pada: sastra, matematika, bahasa, dan humaniora, termasuk sejarah. Kurikulum adalah pendidikan liberal.

  1. d) Pelajar

Makhluk rasional yang dibimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia dunia biologis.

  1. e) Pengajar

1)      Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegitan belajar-mengajar di kelas.

2)      Guru hendaknya orang yang telah menguasai suatu cabang, seorang guru yang ahli (a master teacher) bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang tepat, dan wataknya tanpa cela. Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan.

Aliran pembaharuan dalam  dunia pendidikan  merupakan  inovasi dan sebagai kritik terhadap aliran – aliran klasik yang dirasa telah tidak relevan lagi dengan kondisi yang ada . maka beberapa tokoh dalam  aliran – aliran pembaharuan mencetuskan  teori tentang pendidikan  yang lebih baik dan  lebih bisa diterapkan dalam  dunia pendidikan  . Adapun klasifikasi  beberapa aliran berdasarkan adanya kemiripan atau kesamaan teori  .
Dalam  tulisan  ini akan dibahas tentang aliran – aliran tersebut yaitu : Aliran Progresivisme, Aliran  Konstruksivisme, Essensialisme, Aliran Perenialisme disertai beberapa tokoh yang mendukung aliran – aliran  tersebut .

A.PROGRESIVISME

1.Aliran Progresivisme  
Aliran Progresivisme memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan.  Hal ini ditunjukkan dengan adanya fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding makhluk lain .Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang di dukung oleh kecerdasan sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter peserta didik .    Peserta didik tidak hanya dipandang  sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga. termanifestasikan di dalam  tingkah laku dan perbuatan yang berada dalam  pengalamannya jasmani dan rohani, terutama kecerdasan, perlu dioptimalkan. Artinya peserta didik diberi kesempatan untuk bebas dan sebanyak mungkin mengambil bagian dalam  kejadian  -kejadian  yang berlangsung di sekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam  maupun di luar sekolah .
2.Tokoh Aliran  Progresivisme
Tokoh dalam  aliran  ini adalah  John Dewey  dan aliran ini secara garis besar memiliki pendapat  yaitu bahwa manusia mempunyai kemampuan  – kemampuan  yang wajar  dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan , ataupun masalah – masalah  yang bersifat mengancam dirinya .
Sehingga pemikiran manusia mampu mengantisipasi hal apa saja yang berada di depannya dan mampu memilih alternatif pemecahan atas persoalan yang timbul  dengan pemikiran yang cepat dan tepat . Manusia mampu  berfikir secara baik dalam  beberapa permasalahan yang dihadapi  dan mampu mengatasinya dengan baik.
B.KONSTRUKTIVISME
1.Aliran  Konstruktivisme  
Aliran  Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan  mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam  diri seseorang   yakni  melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindera , yaitu indra penglihatan , pendengaran , peraba , penciuman , dan indra perasa . Dengan demikian aliran ini menolak adanya transfer pengetahuan  yang dilakukan oleh seseorang  kepada orang lain   dengan alasan pengetahuan   bukan  barang yang bisa dipindahkan  , sehingga jika pembelajaran  ditujukan untuk mentransfer ilmu perbuatan itu akan sia – sia  saja .    Sebaliknya  kondisi ini akan berbeda jika pembelajaran  ini ditujukan untuk menggali pengalaman .
2.Tokoh Aliran  Konstruktivisme
Gagasan pokok Aliran  Konstruktivisme diawali oleh Giambatista Vico , seorang Epistimolog Italia Ia dipandang  cikal bakal lahirnya Aliran  Konstruktivisme . Ia mengatakan bahwa Tuhan adalah  Pencipta Alam semesta dan manusia adalah  tuan dari ciptaan .  mengerti berarti mengetahui sesuatu jika ia mengetahuinya . Hanya Tuhan yang dapat mengetahui segala sesuatu karena Dia Pencipta segala sesuatu itu . Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan  Tuhan . Bagi Vico  pengetahuan  dapat menunjuk pada struktur konsep yang dibentuk . Pengetahuan  tidak bisa lepas dari subyek yang mengetahui .
Aliran  Konstruktivisme  dikembangkan oleh Jean Piaget  melalui teori kognitif , Pieget mengemukakan bahwa   pengetahuan  merupakan interaksi kontinou antara individu satu dengan lingkungan nya . Artinya pengetahuan  merupakan suatu proses  , bukan suatu barang . menurut piaget  mengerti adalah  proses  adaptasi intelektual antara pengalaman dan ide baru  dengan pengetahuan  yang telah dimilikinya , sehingga dapat terbentuk pengertian baru.Piaget juga berpendapat bahwa perkembangan kognitif dipengaruhi oleh tiga proses  dasar , yaitu asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi . adapun pengertian dari ketiganya adalah  sebagai berikut
Asimilasi adalah  penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru .v
Akomodasi adalah  penerimaan terhadap informasi baru atau situasi baruv
Ekuilibrasi adalah  penyesuaian kembali yang secara terus menerus dilakukan antara      asimilasi dan akomodasv

C.ESENSIALISME
1 Aliran Esensialisme dan Pendapat  para Tokohnya
Pada dasarnya aliran ini memprtes aliran sinisme dari gerakan progresivisme  terhadap nilai – nilai  yang tertanam dalam  warisan budaya atau sosial . Menurut aliran ini nilai – nilai  yang tertanam dalam  warisan budaya atau sosial adalah  nilai – nilai  kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah  selama beratus tahun  dan di dalamnya telah teruji dalam  gagasan – gagasan dan cita – cita yang telah teruji dalam  perjalanan waktu  .

  1. Tokoh Aliran Esensialisme
    William C Bagley

 
Tokoh utama dalam  aliran ini adalah  William C Bagley  yang lahir di Detroit  , Ia memasuki Universitas Negeri Michigan  dan Universitas Wisconsin  dan menerima gelar Doktor  dari Universitas Cornell tahun 1900  ,Ia mengajar pada  Teachers College ( Sekolah tinggi Guru ) selama lebih dari 20 tahun  . Adapun Karakteristik dari aliran ini  dapat dilihat dari ciri – ciri filsafat yang dikemukakan oleh William C Bagley  yaitu :
Minat –minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya – upayav belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam  jiwa .
Pengawasan , pengarahan dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah v melekat dalam  masa balita yang panjang atau keharusan  ketergantungan yang khusus  pada spesies manusia
Oleh karena kemampuan   untuk mendisiplinkan diri harus menjadiv tujuan  pendidikan  maka penegakan kedisiplinan merupakan kunci utama untuk sebuah perjuangan , sebab segala sesuatu yang bersifat sebuah keberhasilan adalah  buah dari perjuangan  , bukan merupakan pemberian .
Esensialisme menawarkan teori yang kokoh dan kuat tentang pendidikan  ,v sedangkan  sekolah – sekolah pesaingnya yakni progresivisme memberikan  sebuah teori yang lemah  . Jika terdapat sebuah pertanyaan di waktu lampau tentang jenis teori pendidikan   yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat demokrasi . maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi sekarang Aliran ini bersumber dari filasafat idealisme dan realisme  , dsan didukung oleh kedua aliran tersebut yang mengatakan bahwa nilai – nilai  yang dapat memenuhi  adalah  berasal dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif selama empat abad yang lalu yaitu zaman renaisans , adapun tokohnya adalah  sebagai berikut :
Johan Amos Cornelius  ( 1592 – 1670 )  yaitu agar segala sesuatu diajarkan melalui indera  karena indera adalah   pintu gherbangnya jiwa .
Johan Frieddrich Herbart ( 1776 – 1841 )  Tujuan  pendidikan  adalah  menyesuaikan jiwa seseorang   dengan kebajikan Tuhan  , perlu ada kesesuaian dengan kesusilaan dan prosesnya disebut pengajaran  .
William T Harris ( 1835 – 1909 ) Tugas pendidikan  adalah  menjadikan terbukanya realitas berdasarkan susunan yang tidak terelakkan dan bersendikan kesatuan spiritual  . Sekolah adalah  lembaga yang memelihara nilai – nilai  yang telah turun temurun  dan menjadi penuntu penyesuaian orang pada masyarakat .
Dari pendapat  diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aliran Esensialisme menghendaki agar landasan pendidikan  adalah  nilai – nilai  essensial , yaitu nilai – nilai  yang telah teruji oleh waktu , bersifat menuntun , dan telah turun temurun  dari zaman ke zaman  sejak zaman Renaissans.

D.PERENIALISME
1. Aliran  Perenialisme  
Perenialisme adalah  gerakan pendidikan  yang memprotes terhadap gerakan pendidikan  progresivisme yang mengingkari supernatural . Perenialisme adalah  gerakan  pendidikan  yang mempertahankan bahwa nilai – nilai  universal itu ada , dan bahwa pendidikan  hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran  – kebenaran  dan nilai – nilai  tersebut .
Orientasi aliran ini adalah  Scholatisme atau Neo Thomisme  yang pada dasarnya memandang kenyataan  sebagai sebuah dunia akal pikiran dan Tuhan , pengetahuan  yang benar diperoleh melalui berfikir dan keimanan  dan kebaikan berdasarkan perbuatan rasional .
2.Pendapat  Para Tokoh Aliran  Perenialisme
Robert M Hutchins  berpendapat bahwa tugas pendidikan adalah  sebagai berikut : pendidikan  mengandung  mengajar , mengajar mengandung  pengetahuan  , pengetahuan  adalah  kebenaran  ,dan kebenaran  dimanapun adalah  sama . Karena itu pendidikan dimana pun  seharusnya sama . Hutchins merupakan  juru bicara bagi filsafat  Perenialisme di Amerika dan Ia merasakan selama paruh pertama abad 20 , adanya kekacauan dalam  pendidikan  tinggi disebabkan oleh tiga kelompok utama dalam  masyarakat  yaitu :
Kecintaan pada Uangv
Suatu konsep yang keliru tentang Demokrasiv
Suatu gagasan yang keliruy tentang kemajuanv
Ia berpendapat bahwa  jauh lebih berarti mengutamakan belajar di sekolah  dengan belajar pemikiran klasik dan intelektual yang merupakan kekuatan dan hal yang penting dari akal pikiran manusia .Ia juga mengunggulkan prestasi intelektual dan menegakkan perlunya melestarikan tradisi pemikiran barat secara akademis,   dibanding konsep universitas yang  hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk siap kerja .
Plato , Aris toteles  dan Thomas Aquino    Perenialisme memandang  bahwa kepercayaan  aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan  dasar pendidikan   sekarang . Pandangan aliran ini tentang pendidikan  adalah  belajar untuk berfikir , oleh sebab itu peserta didik harus dibiasakan untuk berlatih berfikir sejak dini . Pada awalnya peserta didik diberi kecakapan – kecakapan dasar seperti membaca , menulis dan berhitung , Selanjutnya dilatih kemampuan  yang lebih tinggi seperti berlogika , retorika dan bahasa .

E.KESIMPULAN
Aliran Progresivisme memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan  .Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang di dukung oleh kecerdasan sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah . Peningkatan kecerdasan menjadi tugas utama pendidik
Aliran  Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan  mutlak diperoleh dari hasil konstruksi kognitif dalam  diri seseorang   yakni  melalui pengalaman yang diterima lewat pancaindera , yaitu indra penglihatan , pendengaran , peraba , penciuman , dan indra perasa .
Aliran Esensialisme berpendapat bahwa  nilai – nilai  yang tertanam dalam  warisan budaya atau sosial adalah  nilai – nilai  kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah  selama beratus tahun .

ALIRAN PENDIDIKAN DEVELOPMENTALISME

proses pendidikan merupakan proses perkembangan jiwa, yaitu hasil dari aktivitas dan reaksinya terhadap lingkungan, karen apendidikan merupakan gabungan nature/pembawaan dan nurture (asuhan lingkungan). Pengembangan pendidikan mengutamakan pendidikan secara universal. Friendrich Froebel menyampaikan ada beberapa hal terkait aliran pendidikan developmentalisme, yaitu: teori nilai, pengetahuan, pembelajaran, sosial, alamiah manusia, kesempatan, dan dan tarnsmisi. Beliau juga menyebutkan bahwa tujuan pendidikan yaitu pencapaian keselarasan melalui kegiatan sendiri. Pendidikan berperan untuk memimpin manusia, yaitu: jelas tentang dirinya, hal tentang dirinya, perdamaian dengan alam, dan dekat dengan Tuhan.

Metode pendidikan yang bisa diterapkan pada aliran pendidikan developmentalisme:

1)       pengarahan kegiatan sendiri; 2) penemuan sebagai pernyataan diri; 3) menggambar; 4) ritme (musik/bahasa)/budaya; 5) alat-alat pendidikan (bahan ajar/media pembelajaran).

Sedangkan kurikulum pendidikannya berupa penekanan pada sifat asli anak, karena belajar adalah hasil kehidupan aktifnya, objek pembelajaran dapat mendorong anak belajar, jadi bukan hanya meperoleh pengetahuan tetapi belajar merupakan prose melatih keteramilan serta peningkatan kekuatan kemauan dan karakter. Belajar tentunya merupakan kegiatan konstrukif dan produktif.

Herbart menginginkan pembentukan manusia susila yang bermoral tinggi melalui pengembangan minat yang seluas-luasnya. Minat anak dikembangkan melalui pengajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s